A Strange yet Delicious Indonesian Taste(s)

Tamu Kami

Beberapa hari yang lalu saya diberi tugas untuk menemani dua orang guru, Mr. Peter Riley dan Ms. Catherine Owens  dari program pertukaran guru antara sekolah saya (Pesantren Darunnajah) dan sekolah yang berada nun jauh di negeri Eropa, Keighley’s Holy Family Catholic School. Agenda kami adalah kunjungan ke beberapa pondok cabang Darunnajah yang berada di Gn. Sindur, Bogor dan Serang, Banten. Lepas Ashar dengan ditemani mendung gelap yang bergelayut di langit Jakarta terus menemani sejak kami meninggalkan kampus menuju tujuan pertama, Darunnajah 8 An Nuur, Cidokom, Bogor. Bagi saya, perjalanan tersebut adalah juga merupakan kali pertama. dan, kami pun disuguhkan rute perjalanan dengan trek yang cukup menantang bak trek offroad. hal tersebut dikarenakan jalan yang kami lalui tidak begitu baik dan ditambah dengan genangan air setelah hujan yang mengguyur bumi. Namun, sepertinya tamu kami tidak terlalu mempermasalahkan medan yang cukup menantang tersebut.

Comro yang Menggugah Lidah Eropa

Jelang waktu Maghrib, kami tiba di lokasi pertama. sambutan tuan rumah cukup ramah dan menyenangkan. Ramah tamah kami ditemani dengan berbagai kudapan, diantaranya comro, misro, singkong keju, dodol, wajit dan beberapa bulir buah durian yang tersaji di atas piring. Tanpa berpanjang cerita, dengan antusias kami menawarkan dua tamu kami berbagai kudapan yang tersaji. Paling tidak, kami senang dengan ekspresi tamu kami ketika mencicipi berbagai kudapan tersebut. Untuk lebih meyakinkan dugaan, iseng kami bertanya, “How does it taste?” dan ungkapan-ungkapan seperti It tastes beautiful!, Nice, Great dan I like it pun terdengar, bahkan Ms. Owens mengatakan bahwa dia ingin mencoba membuat comro ala Ms. Owens sekembalinya dia ke UK nanti.  Mengetahui ternyata rasa Indonesia diterima oleh lidah Eropa, dengan semangat kami menceritakan berbagai kuliner Indonesia yang mulai banyak dikenal dunia, tentu saja, Rendang yang dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia pun tak luput dari ‘usaha promosi” kami. Acara kemudian dilanjutkan dengan temu santri di masjid. terlihat, tamu kami sangat terkesan dengan kesenian marawis dan suguhan tari Saman dari para santri santri. Kekaguman mereka pun semakin terlihat ketika beberapa santri mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris pada sesi tanya jawab. Meskipun pertanyaan tersebut disampaikan dengan pronunciation ala Indonesia, menurut mereka, hal itu tetap adalah sesuatu yang mengagumkan. Hal tersebut dikarenakan akuisisi bahasa asing yang dimiliki santri selain bahasa ibu mereka dan bahasa Indonesia.

Next Stop: Indonesian Seafood and Rendang

Jelajah kuliner yang secara tidak langsung juga kami tawarkan kepada Mr. Riley dan Ms. Owens masih berlanjut di Serang, kota tujuan kami berikutnya. Restoran bernuansa elegan dengan anjungan kapal buatan menjadi pilihan kami. Singkat cerita, berbagai jenis ikan dengan variasi bumbu, udang dan cumi menghiasi meja kami. Suasana restoran yang nyaman semakin membuat suasana jamuan terasa hangat dan penuh kekeluargaan. dan hasilnya, hidangan tersebut juga ludes tak bersisa dan yang membuat kami senang adalah, bermacam sajian seafood dengan bumbu khas indonesia tersebut juga dapat dinikmati lidah Eropa. Peter sempat terlihat penasaran ketika pengunujung di meja dekat kami memesan es kelapa yang disajikan langsung dengan buah kelapa utuh. Mungkin dia bertanya-tanya, Why these Indonesian people put a whole of coconut on their dining table? 

Last but not Least

Kami akui, waktu 2 hari yang diberikan untuk menemani kedua tamu asing kami belumlah cukup. NAmun, justru dengan kesempatan sempit tersebut membuat kami berusaha meninggalkan kesan ramah bagi mereka berdua. Jelajah kuliner pun ditutup dengan menu andalan negeri ini “Rendang.” Ternyata, riset yang membuktikan bahwa renndang adalah makanan terlezat di dunia benar adanya. 2 porsi rendang pun tandas di meja makan. Well, selamat datang di Indonesia, negeri rempah yang kaya rasa. I hope that you enjoy the trip and we’ll be waiting for your coming again.DSC_0099