Lost in Sabang

terlalu banyak yang mau ditulis, jadinya bingung, baru nulis 2 baris terus dihapus, nulis lagi sebaris, dihapus, gitu aja terus. tapi.. jelang weekend gini kayanya flashback acara jalan-jalan seru kali ya…

suatu hari di pulau yang berada di ujung barat negeri ini, pulang Weh a.k.a Sabang. untuk pendatang seperti saya, harus saya akui kalo pulau ini tuh cantiiiikkk banget. pulaunya si ga terlalu luas, orang kalo mau keliling pulau pake motor cuma butuh waktu 4 jam aja. kemana pun kita memandang, yang keliatan tuh laut yang bening, kedai mie aceh, kedai kopi (kayanya dua jenis kedai ini tu wajib ada di Aceh) dan kombinasi pantai plus pohon pinus. ditambah lagi aroma khas laut yang… segar…. 😉

nah, ceritanya dimulai pas idul adha taun 2009 kalo ga salah. waktu itu saya ngajar di satu-satunya sekolah berasrama yang ada di pulau ini. berhubung perayaan idul adha untuk masyarakat aceh tu dimulai beberapa hari sebelumnya (istilahnya meugang) jadi anak-anak yang di asrama kita kasi izin pulang untuk kumpul2 bareng keluarga di rumah. sisanya di asrama siapa? ya… orang-orang macam kita ini, perantauan tanpa sanak saudara di pulau terpencil ini. singkat cerita, kayanya itu idul adha paling engga banget yang pernah dirasakan, gimana engga? pagi idul adha tu hujan deras sekali, udah gitu ga ada makanan pula, ya sudah, kelam dan lapar pastinya. daripada bengong, akhirnya saya dan teman sekamar saya, sebut aja namanya Ana, memutuskan untuk jalan keliling pulau. dibilang keliling pulau si sebenernya ga spesyel2 banget, soalnya itu emang hobi kita tiap sore. tapi kali ini kta mau nyobain lewat jalan yang belum pernah kita lewatin sebelumnya.

dan, dengan mio biru pun kita melaju. berdua. lewat kampung2. lewat pantai. mampir beli rujak buah (yang bumbunya kebanyakan kacang).  dan akhirnya… kita nyasar sodara-sodara. coba, di pulau yang ga lebih luas dari jakarta, kita bisa nyasar!!! engga banget kan? jadi kita tu masuk hutan and it is a dead end!!! apa yang salah? perasaan kita ikutin papan petunjuk yang mengarahkan kita ke pelabuhan (harusnya si gitu). thanks God, di ujung jalan itu kita ketemu abang2 yang mau pulang habis ngumpulin kayu, dia bilang, harusnya kita belok di pas ada belokan, bukannya lurus aja. masalahnya, saya aja ga inget ada belokan apa engga, kayanya dari tadi juga kita jalan lurus-lurus aja.

ya sudahlah, daripada nyasar lagi, kita ikuti saja petuah dari beliau. putar arah, kembali ke jalanan yang kita kenal, tetap ke pelabuhan lewat jalan umu yang biasa dipake orang, bukan jalan setapak yang di peta ga keliatan (SAbang aja sering ga keliatan di peta, apalagi jalanannya :D)

finally, mie aceh di pelabuhan jadi pengobat lapar akut kita setelah dengan sukarela menyasarkan diri di pulau yang ga lebih besar dari ibukota negara ini 😉

pantai Iboih yang cantiikkk

pantai Iboih yang cantiikkk

sunset Sabang Fair

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s