Catatan Perjalanan Menuju Timur

Saya menikmati saat-saat duduk dan menunggu waktu keberangkatan di stasiun atau bandara, sembari memperhatikan
orang-orang yang berlalu lalang membawa troli dan barang-barang. Ada yang bertumpuk-tumpuk, ada juga para light-
traveller, pelancong dengan bawaan yang ringkas, anti ribet.

Pagi ini saya kembali berada di sebuah bandar udara tersibuk negeri ini, menunggu saat keberangkatan pesawat yang
akan membawa saya pulang ke kampung halaman dalam beberapa jam lagi.

Pandangan saya tertuju ke pintu kedatangan penumpang di Terminal 3. Satu sosok semampai, berkulit putih dengan mendorong troli yang penuh berisi barang-barang bawaannya berjalan menuju satu titik tujuannya dengan penuh kepastian. Saya dapat melihat binar matanya yang meyiratkan kegembiraan, senyumnya mengembang lebar seraya
merentangkan tangannya, menyambut sesuatu yang telah menunggu kedatangannya.
Saya bergumam dalam hati, ah… kerinduannya terlampiaskan sudah. Entah berapa lama kerinduan itu tersimpan.
Perempuan itu lalu berjongkok, setengah berlari, semacam tak sabar ingin memeluk sosok di depannya.
Mata saya masih belum melepaskan pandangan terhadap kejadian mengharukan yang akan terjadi di hadapan saya.
Sekaligus penasaran, pastilah sosok yang dirindukan adalah gadis mungil nan lucu juga imut dengan pipi yang tembem.
Atau bisa jadi sosok itu adalah bocah bandel tapi bisa membuat orang kangen setengah mati.

Beberapa detik yang terjadi kemudian adalah sebuah moment of truth yang sangat diluar dugaan. Sesuatu yang
membuat matanya berbinar bukanlah dari dua kemungkinan yang telah disebutkan sebelumnya, bukan pula sosok belahan hatinya yang berdiri tegap menyambut kedatangannya dengan pelukan hangat. Sosok tersebut adalah seekor anjing (entah apa nama spesiesnya), yang di groom sedemikian rupa menyerupai gadis kecil yang menggemaskan dengan dua kuncir dan kaos berwarna pink menyala. Hewan kecil berkaki empat itu pun nampak sangat bahagia
bertemu tuannya, dua kaki depannya di angkat seraya berjalan menghampirinya. Tak lupa lidahnya juga dijulurkan.
Dan ketika dua makhluk berbeda jenis itu bertemu, keduanya berpelukan, masing-masing menghadiahkan pelukan
terhangat dan kecupan sayang, pelampiasan rindu yang nampaknya lama terpendam.

Terbesit di benak saya, kasih sayang lintas spesies itu terlihat begitu indah. Amat menyenangkan melihat keduanya menjadi sumber kebahagiaan bagi masing-masing.

Lantas, apakah manusia, makhluk yang ditinggikan derajatnya oleh
Allah dengan kesempurnaan penciptaan dan akal enggan menyebarkan kebahagiaan bagi jenisnya sendiri? Kebahagiaan
dari memberi dan berbagi kepada sesama adalah nirwaktu. Lebih abadi daripada kebahagiaan yang didapat dari pesta
pora, euforia sesaat atau hal-hal yang jelas-jelas hanya bersifat temporer.

Sharing is caring…
Sharing is happiness…
Care of each other is happiness…

Jakarta, 20 Ramadhan 1436/ 7 Juli 2015

image

Gerbang Udara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s