Refleksi Keislaman

Berikut adalah kutipan tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Nabilah Abdul Fattah Lubis pada acara Buka Puasa Bersama Dewan Guru Pesantren An Nur, Bogor.

Semoga bermanfaat!

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan ideal sebagai tumpuan harapan dan teladan dalam
segala hal. Teladan yang dimaksudkan bukan hanya dilihat dari segi pencapaian pembangunan
secara fisik, melainkan juga sebagai teladan dalam sistem pendidikan dan pengajaran, akhlak guru dan santri, kepemimpinan dan manajemen pengelolaan pesantren.

Hendaknya setiap pesantren
berusaha menjadi teladan dalam hal tesebut, tidak saja dalam skala lokal, melainkan juga dalam
skala nasional bahkan internasional.

Hal ini berkaitan dengan kondisi umat Islam di dunia yang sangat tidak menyenangkan. Konflik berkepanjangan yang terjadi di Mesir, Syria dan Irak memaksa kita untuk melakukan telaah ulang
terhadap manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.

Sebagaimana kita ketahui, penyebab
timbulnya konflik tersebut adalah konfrontasi antara penganut Syiah dan Ahlu Sunnah. Masing-
masing merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Hal ini tentu memicu perang saudara yang tak terelakkan. Dan kita juga mengetahui, tentu perang yang berkecamuk merugikan penganut Islam di seluruh penjuru dunia. Masing-masing pihak bahkan membawa atribut keagamaan sebagai legalitas perbuatan yang mereka lakukan.

Membunuh saudaranya. Bagaimanalah seseorang membunuh saudaranya sesama muslim dengan melafalkan “Bismillahirrahmanirrahim” dan korban yang
terbunuh dengan sukarela melafalkan syahadat menjelang ajalnya?

Lagi-lagi, manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin masih dipertanyakan.

Dan yang menjadi pertanyaan besar adalah: Kapankah kita akan mewujudkan hal tersebut? Bagaimana kita akan mewujudkannya, sedangkan kita masih sibuk menuding dan menyalahkan saudara kita sesama
muslim?

Sungguh, hal yang demikian adalah sebuah kondisi yang tidak menyenangkan.

Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Terlepas dari maraknya isu Islam Nusantara yang sedang mencuat, Indonesia memiliki potensi untuk
menjadi pemimpin bagi seluruh muslim di dunia. Dengan jumlah penganut Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, kita memiliki aset untuk mendidik dan menggembleng calon-calon pemimpin
masa depan yang mampu membawa Islam kembali berjaya di muka bumi ini.

Seyogyanya masing-masing dari kita juga merefleksikan Islam kita.
Menghayati akidah yang kita anut sejak lahir.
Merefleksikan kembali syahadat yang terucap dalam sholat kita.
Mempelajari kembali esensi sebenar ajaran-ajaran Al Qur’an.
Memantaskan ibadah dan khusyu dalam sholat.
Kita memiliki tugas untuk mengembangkan Islam DI Indonesia, bukan mengembangkan Islam ALA
Indonesia.

Saya memiliki keyakinan, apabila kita mampu menghayati nilai-nilai ajaran Islam sesuai Al Qur’an
dan As Sunnah, maka kita mampu dan bisa menjadi pemimpin.

Wallah A’lam.

Bogor, 15 Ramadhan 1436/ 2 Juli 2015

image

Prof. Nabilah Lubis. Dalam usianya yang telah senja, masih bersemangat memberikan sumbangsih pemikiran bagi kejayaan Islam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s