from Java with Love…

Lueng Putu. Pidie Jaya. Meureudue. Bireuen. Samalanga.
Nama-nama tersebut menjadi viral 2 hari ini. Mungkin terdengar asing bagimu, tapi tidak bagiku.

lueng-putu

gerbang perbatasan Kab. Pidie dan Pidie Jaya. sekolah tempat saya mengajar berada persis sesudah gerbang ini

I’ve been there. menghirup udaranya, merasakan airnya, cherish every moment dengan kehangatan dan keramah tamahan penduduknya.

Lalu kota kecil itu mendadak viral. Gempa berkekuatan 6.4 SR meluluh lantakkan sebagian bangunan. Gempa itu juga membuat jalan-jalan merekah.

Believe me. I felt it too. Twice.
Merasakan bumi yang bergoyang saat malam belum lagi habis. Membangunkan dari lelap tidur menjelang ayam berkokok.

Kali ini gempa berkekuatan sedang itu membuat semua mata mengalihkan pandangannya sejenak. Dampaknya tak teduga. Orang-orang panik. Mereka terjebak di rumah-rumah mereka sendiri. Seorang teman menuturkan gempa kali ini terasa berbeda. Rasanya seperti di atas trampolin raksasa sehingga menyebabkan kesulitan untuk keluar rumah dan menuju tempat terbuka, menyelamatkan diri. Jumlah korban hampir menyentuh angka ratusan. Mereka trauma, khawatir kenangan pilu itu terjadi lagi.

Namun aku tahu mereka. Terlepas dari apapun yang diberitakan media, kesanku terhadap mereka belum berubah. Orang Aceh yang ku kenal adalah orang-orang yang ramah, sederhana, pantang menyerah dan tekun beribadah.

Mereka pernah bertahan melewati masa sulit tahun 2006 lalu. Aku yakin, kali ini dapat kembali dilalui dengan baik.

Stay Strong!

Advertisements