Altruis(?)

Berbuat baik menurutku itu harusnya jadi kebiasaan. Sama seperti kita melakukan aktifitas harian kita.

Tapi nyatanya, selalu ada manusia lain yang misinterpretasi terhadap hal-hal yang kita lakukan. Lalu mereka dengan seenaknya menghakimi dan menilai dari 1 sudut pandang saja.

Buatku, berbuat baik itu seperti panggilan jiwa. Entah karena doktrin ‘kebaikan akan berbalas kebaikan’ atau memang hanya ‘ingin berbuat baik saja.’

Ya, harus diakui, tidak semuanya harus berbalas langsung. Memang, ada beberapa yang langsung mendapat balasannya, tapi tak jarang, justru air tuba yang didapat (lebih sering yang ini si, sebenernya, hehe. tapi mungkin itu perasaanku saja.)

Tertolak dengan ucapan ‘kamu terlalu baik’ atau ‘maaf, aku ga bisa balas kebaikan kamu’ bahkan ada yang jelas-jelas bilang ‘kamu baik si, tapi…. bla bla bla’

Anehnya, meskipun kata-kata itu bikin sakit luar biasa, aku tetap mau-mau aja kalo ada yang minta tolong ini itu. Ga peduli ada hambatan apapun, selama masih bisa dikerjakan ya… bakal dikerjakan.

Meskipun ada yang terang-terangan bilang ‘kamu ni bodoh apa gimana si, mau aja dimanfaatin kaya gitu.’ atau yang lebih ekstrim ‘ngapain si baik-baik kaya gitu? lagi modus? percuma, dia udah punya gebetan!’

Hei! menurutku berbuat baik buat melulu tentang pamrih atau balasan

Ini tentang panggilan jiwa, khususnya untuk orang-orang tersayang.

Tentang kepuasan batin ketika melihat mereka tersenyum dan bahagia karena adanya kita. Kalo dapat ya berarti itu karena adanya kita.

Bisa jadi karena hal kecil saja, tapi dari yamg kecil itu, hal-hal besar akan bermula.

A Healing Sip

I began this habit (again) in a fine afternoon.

Decided to take a sip from this bitter one.

Accompanied with a bite of cookies to close the noon.

Along with hands and shoulders from a best one.