Time Capsule

Another morning routines, take the red KRL route to Bogor for work. But this time me and my friend got a little naughty plan😉

1. Kunjungan Kenegaraan

Awalnya karena dapat info ada open house di istana Bogor dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Bogor ke- 535. Berhubung open house nya cuma dari hari senin sampai jumat, jadilah kita berdua JJP dulu. iya, cuma berdua aja, berkurang dari rencana awal yang mau berlima. 

So, sekitar jam 9 kereta masuk stasiun Bogor. Ribetnya stasiun Bogor sekarang tuh, ga ramah pejalan kaki, manula dan penyandang disabilitas. Gimana engga, untuk keluar stasiun pilihannya cuma 2, jalan kaki dengan rute memutar untuk sampai di Jl. Mayor Oking atau Jl. Dewi Sartika atau naik tangga jembatan penyebrangan yang curam untuk ke Jl. Paledang. Ga ada yang mendingan. Untuk jalan kaki dari keluar pintu kereta sampe depan Lapas aja butuh waktu kurang lebih 3 menit.

Nah setelah mendaki dan menuruni jembatan penyeberangan plus meet up plus titipin bawaan di kantor, kita melenggang kangkung ke istana. Iya, tempatku mengais rejeki mungkin ga sampe 1 km dari istana tempat pakde kerja (kata staf Setneg nya gitu). Pas jalan kaki ke Kantor Walikota Bogor (pendaftarannya di halaman kantor Pak Bima) kita emang lihat macet yang ga biasa, lebih padat dari hari biasa. Ternyata pas sampe kantor pak walkot kita disambut pemandangan yg wow… bapak2, ibu2, rombongan anak sekolah mulai dari level TK sampe SMK pada antri mau masuk. *Fyuh… bakal lama ini dapat gilirannya. 
Bener aja kan, habis dapat tiket n masuk antrian, awalnya petugas bilang yang didahulukan pengunjung pribadi dulu, eh… ga lama habis itu, malah bilang rombongan anak sekolah dulu, kan jadi makin kepanasan kita diluar.

Tapi, mungkin karena kebanyakan nonton film spy, pas lihat rombongan pengunjung individu yang mau nyebrang ke istana, kita langsung gercep, melipir ikut masuk antrian. Mission accomplished, berhasil! Memangkas waktu antrian yang ga bisa diprediksi berapa lama. 

Prosedurnya ga jauh beda sama waktu ke Istana Merdeka except disini ga ada opening tour dari petugas. Juga ga perlu naik bus khusus seperti dari Gedung Setneng ke Istana. Disini cuma lewati metal detektor standar sama ada petugas yang periksa. Oia, kita bawa hape. Sebetulnya ga boleh masuk, tapi habis merayu pak satpam biar beliau mau dititipi hp kita, akhirnya kita bisa menikmati halaman istana yang luuuuaaaassss dan adem.

How the palace look like?

Sejuuukkkk karena banyak pepohonan rindang yang guede guede. Betah deh jalan2nya. Tapi itu ga berlangsung lama, soalnya di halaman banyak patung2 perunggu. Risih, karena semuanya ga pake bajuuuu🙈 patung ciwi ciwi, real size pula. Kan jadi malu sendiri. 

Ada beberapa bangunan sebelum bangunan inti istana itu sendiri. Entah apa aja fungsinya.

Pas di depan istana ada yg pepotoan. Noraknya kambuh, pengen juga mengabadikan kunjungan kenegaraan kali ini. Ikut ngantri tapi pas dikasi tau biayanya, agak shock juga. Mihil…. Iya si, fotonya 5R tapi kan ga 35rb juga bayarnya. 

Istana? 

Kurang berkesan, ga ada guide yang temani tiap rombongan yang masuk komplek.

Ga bisa bener2 masuk istana dengan alasan si pakde skrg ngantornya di Bogor. What???? Pas ke Istana Merdeka kita boleh masuk ko, padahal juga dipake Pak SBY kerja. Sekarang? Ah sudahlah

Staff yang jaga jutek. 

Saya nanya:

Ibu, kenapa kursinya banyak sekali? 

Ruangan mana yang dipake pak pres kerja dan istirahat?

Bu, kursi banyak gini ga mubadzir?

Sama si ibu cuma dijawab “iya karena ruangan skrg pak pres kerja disini. bapak tidurnya disana” (nunjuk ke arah sembarang keknya)

Trus…. pertanyaan terakhir malah dapat jawaban “Yak, sekarang adek bisa langsung ke Museum Balai Kirti”

Okefix, hayati diusir cantik gegara nanyain kursi banyak gitu mubadzir apa engga…
Blas ga ada jawaban2 yang mencerahkan, minimal nilai filosofis tata letak, bentuk atau apa lah.
Oia, pas ngintip ke ruang utama kan ada cermin gedeee banget digantung, pas ditanya ke petugas, dianya malah cuma cengengesan!😪
2. Museum Balai Kirti

Ini dia kapsul waktunya.

Nama resminya Museum Kepresidenan Republik Indonesia aka BALAI KIRTI. Dari brosurnya, balai kirti adalah bahasa sansekerta dari Hall of Fame.

Museum keren. Isinya rangkuman masa pengabdian 6 presiden RI yang udah pensiun.

Ah pokonya keren banget. Liat2 peninggalannya, tanda penghargaan yang diterima. Lencana, tanda bintang, plus benda2 ikonik yang jadi ciri khas masing2.

Masing2 punya ruang display khusus. 

Kita khusyu di ruangan Presiden pertama, kedua, ketiga dan keenam. Betah liatnya. Pengen balik lagi.
Yang paling berkesan di ruang display Pak SBY. 

Begitu masuk ruangannya ada helm biru macam helm Big Boss dengan logo dan tulisan UN (United Nations). Pas dideketin, itu helm waktu beliau jd pasukan UN Peacekeeper. Duh… ko keren.

Di kotak kaca lainnya ada HP Nokia (ga tau model apa, tapi semacam Nokia Communicator) tulisannya bilang HP itu yg dipake Pak SBY utk berinteraksi lsg dgn rakyatnya via layanan SMS 9979 (kayanya si gitu nomernya)

Ada baju PDH & toga waktu beliau terima gelar doktor honoris causa dari Universitas Pertahanan. Penghargaan yang beliau terima kebanyakan dalam bidang strategi. Banyaaakkk bgt list penghargaannya

Museumnya belum lama diresmikan. Bangunannya baru dan cantik.
Sayang ga bisa diabadikan, kan hp dititipin pak satpam, heheh…

Selesai dr museum kita kembali lagi ke ke gerbang masuk, disambut dengan ‘Lama amat! Yang lain udah pada keluar dr tadi’ dari si pak satpam.

Heheh… maap pak, kami menikmati saat2 di museum.

Bogor juga punya museum bagusloh.

Main yuk…

Jangan lupa siapkan payung atau jaket kalo main ke Bogor, biar kamu ga sakit. Sakit kena virus #BogohKaBogor
See ya! 

Advertisements

from Java with Love…

Lueng Putu. Pidie Jaya. Meureudue. Bireuen. Samalanga.
Nama-nama tersebut menjadi viral 2 hari ini. Mungkin terdengar asing bagimu, tapi tidak bagiku.

lueng-putu

gerbang perbatasan Kab. Pidie dan Pidie Jaya. sekolah tempat saya mengajar berada persis sesudah gerbang ini

I’ve been there. menghirup udaranya, merasakan airnya, cherish every moment dengan kehangatan dan keramah tamahan penduduknya.

Lalu kota kecil itu mendadak viral. Gempa berkekuatan 6.4 SR meluluh lantakkan sebagian bangunan. Gempa itu juga membuat jalan-jalan merekah.

Believe me. I felt it too. Twice.
Merasakan bumi yang bergoyang saat malam belum lagi habis. Membangunkan dari lelap tidur menjelang ayam berkokok.

Kali ini gempa berkekuatan sedang itu membuat semua mata mengalihkan pandangannya sejenak. Dampaknya tak teduga. Orang-orang panik. Mereka terjebak di rumah-rumah mereka sendiri. Seorang teman menuturkan gempa kali ini terasa berbeda. Rasanya seperti di atas trampolin raksasa sehingga menyebabkan kesulitan untuk keluar rumah dan menuju tempat terbuka, menyelamatkan diri. Jumlah korban hampir menyentuh angka ratusan. Mereka trauma, khawatir kenangan pilu itu terjadi lagi.

Namun aku tahu mereka. Terlepas dari apapun yang diberitakan media, kesanku terhadap mereka belum berubah. Orang Aceh yang ku kenal adalah orang-orang yang ramah, sederhana, pantang menyerah dan tekun beribadah.

Mereka pernah bertahan melewati masa sulit tahun 2006 lalu. Aku yakin, kali ini dapat kembali dilalui dengan baik.

Stay Strong!