BAPER

Raisa – Hamish (tunangan)

Song – Song couple (ngumumin mau nikah)

dan yang paling anyar pasangan Muzammil – Sonia (ga ada angin apa2 batiba foto akad nikahnya seliweran)
3 pasangan yang akhir2 ini bikin ‘baper’ sejagad. bahkan ada meme yg nulis kalo pasangan terakhir malah bikin baper dunia akhirat, bikin hati para akhwat terpotek potek. 

adalah hak azasi mereka untuk merasa patah hati, baper bahkan depresi. ga ada yang bisa mengatur atau memaksa perasaan. 
pertanyaannya, sebenernya apa (siapa kita) yg ngebaperin?

senyum manis wajah rupawan seperti 2 pasangan yg pertama?

atau betapa beruntungnya Sonia dipersunting arsitek yang suara ngajinya merdu?

gejolak darah muda memang agak sulit dimengerti, tapi percayalah, semakin tenggelam dalam lautan baper tak bertepi tiap foto2 mereka seliweran di medsos, semakin pudar glowingmu.
sudah ya…

cukup.

Pride

teman teman alumni pesantren pada upload no. stb (stampbook). semacam id number yang jadi angka keramat. musti dihafal baik baik, kombinasi angkanya plus bacanya in english and arabic (soal no. stb ini jadi sial wajib tiap ujian lisan)

i dont know why.

ga ngerti alasan pastinya. pun ga tau juga siapa yg memulai trend ini. agak sulit melacaknya dari sekian ratus ribu atau mungkin jutaan alumni, apalagi pengguna sosmed.

me?

ga, saya ga ikut ikut upload.

selain ga tau alasan jelasnya, itu data yang private utk saya sendiri.

ga, saya ga lupa no. stb saya. jangankan kombinasi 4 angka itu, id number di ktp yg berderet segitu panjangnya aja saya hafal ko.

ga, bukan berarti saya ga peduli.

saya menganalisa dan menyimpulkan gerakan upload no stb itu adalah bagian dari keberpihakan dan dukungan mereka atas isu yang melanda kyai kami.

memang benar, ada adagium yang berbunyi Gontor perlu dibantu, dibela dan diperjuangkan. 

ada juga yang berbunyi Bondo bahu, pikir, lek perlu sak nyawane pisan. 

ga, bukan berarti saya acuh.

taruhlah saya adalah muslim dengan selemah lemahnya iman yang hanya bisa bersimpuh, menengadahkan tangan seraya memohon kesehatan, kekuatan, penjagaan dan petunjuk Allah atas guru guru kami.

taruhlah saya belum mampu memenuhi satu pun komponen jihad yang disebutkan diatas (tenaga, pikiran, nyawa)

taruhlah saya hanya bisa menuliskan barisan kalimat ini sebagai bentuk kebanggaan dan kepedulian saya.

kebanggaan itu ga pudar hanya karena ga ikut tren kekinian.
dan 1 lagi (kalo yg ini si karena kebanyakan nonton serial detektif, agen rahasia atau mata mata), mengirim data data pribadi untuk konsumsi publik itu riskan. khawatir disalah gunakan orang orang yg ga bertanggung jawab. (sebelum ini ada tren emak emak yg upload data data kelahiran anak mereka)
tanpa bermaksud mendiskreditkan teman teman yang ikut tren kekinian tsb, saya tetap respect sama mereka.

but for me, Pride doesnt have to spill out privacy.

Another Sunday Morning

ini kisah minggu pagi para lajang. kumpul2, cerita2, do some random things.

pagi ini kita nyambangi kampus tertua di negeri ini. si kampus yang punya bikun aka bis kuning. kampus yang jaket almamaternya warna kuning.

guide kita jalan2 di kampus adl lulusan FMIPA UI. rencananya si jogging tipis2, tapi apa daya… dua teman yg ikut sepertinya blm bisa lari jauh2, katanya keberatan beban, haha… aku si masi 45 kg jadi enteng aja lari2 kecil. heheh…

so…

jadi mahasiswa  UI mungkin mimpi yang agak jauh yaaa buatku. secara… sekolahnya di pesantren. makanan sehari2 nya kitab2 bahasa Arab klasik kontemporer. cemilannya buku Tarikh Adab Islam (Sejarah Sastra Islam), Ushul Fiqh, Mustholah Hadits, dan yang sejenis. pelajaran2 ‘umum’ juga ada, tapi porsinya tetep banyakan yg disebut di atas tadi.

bisa saja kesukaan nonton film scifi meracuni otak. sampe skrg masih interested, amazed banget sama cabang ilmu biomolekuler. duh…

nah… trus kmrn dibawa jalan lewat FKM (F. Kesehatan Masyarakat), FT, FIB, F Ilkom (Ilmu Komputer). agak sedikit apa ya… antara down sama pengen gitu lewat gedung2 itu. terberait pertanyaan ‘kalo dulu ga nyantri, skrg aku jadi apa? ada dimana?’

tapi tenang aja… aku bersyukur dengan jalan yang Allah tentukan sekarang.

dengan menghabiskan bbrp tahun di pesantren dan tahun2 berikutnya dengan inspirasi luar biasa yang didapat di sana insya Allah sekarang terus berproses menuju kebaikan.

terus memantapkan hati dengan لا إله إلا الله

meyakinkan diri dengan لا حول ولا قوة إلا بالله

tanpa bermaksud mengecilkan peran teman2 yg belum pernah merasakan hidup di pesantren, kesempatan berbuat baik dan menjadi baik itu selalu ada…tinggal kitanya, mau memanfaatkan apa engga

oia…

dan yang paling penting adalah bagaimana ilmu yang sudah didapat bermanfaat untuk orang banyak

fotonya ga representatif yaaa? heheh

Simple Wisdom

Kali ini Rufaidah membuatku terhenyak.
Di sela makan siangnya, tiba-tiba dia berhenti sejenak untuk menyampaikan beberapa kalimat sederhana yang membuatku berkaca-kaca.
“Ustadzah, tau ga, waktu aku di bis pas mudik ke Jogja, aku berdoa loh.” Ujarnya mengawali pembicaraan.
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, aku membalas sekenanya “Oh ya?! Emang ade baca doa apa di bis?”
Jawabannya benar-benar membuatku menghentikan pekerjaanku sementara.
“Aku berdoa biar keluarga aku yang masih kafir cepet masuk Islam?” Allahu Akbar…
“Memang ade gimana baca doanya?” Telisikku lebih jauh lagi.
“Aku berdoa gini Ya Allah, cepatlah jadikan Papa, Oma sama Opa aku masuk Islam ya… gitu…”
Rasanya air mataku langsung menggenang di pelupuk mata. Aku memintanya untuk mengulang bacaan doanya, sekedar untuk memastikan bahwa aku tidak salah mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari bibir mungilnya.

Lalu aku bertanya lebih jauh lagi, “Kenapa ade pengen papa masuk Islam?”
Lagi-lagi jawabannya membuatku terharu “Iya, soalnya kan kalo papa, opa sama oma masuk Islam, aku bisa lebaran bareng papa. Aku sama mama jadi ga diusir lagi deh dari rumah oma. Ustadzah bantuin aku juga ya. Kalo ustadzah habis sholat, baca juga doa kaya aku tadi. Biar papa, opa sama oma bisa kumpul lagi sama aku.”
Doamu lebih didengar Allah sayang, Insya Allah. Jangan putus berdoa ya…

Subhanallah…
Terimakasih sayang, kau mengingatkan kami manisnya nikmat iman dalam Islam.
Terimakasih sayang, kau mengingatkan kami untuk tidak balik membenci orang yang menyakiti dan membenci kita karena ketidak tahuannya.

اللهم ثبت قلوبنا على دينك وطاعتك.
اللهم ثبت قلوبنا على دينك وطاعتك.
اللهم ثبت قلوبنا علي دينك وطاعتك.

ps: rufaidah masuk TK tahun ini.

image

She's on her first year in the kindergarten.

Refleksi Keislaman

Berikut adalah kutipan tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Nabilah Abdul Fattah Lubis pada acara Buka Puasa Bersama Dewan Guru Pesantren An Nur, Bogor.

Semoga bermanfaat!

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan ideal sebagai tumpuan harapan dan teladan dalam
segala hal. Teladan yang dimaksudkan bukan hanya dilihat dari segi pencapaian pembangunan
secara fisik, melainkan juga sebagai teladan dalam sistem pendidikan dan pengajaran, akhlak guru dan santri, kepemimpinan dan manajemen pengelolaan pesantren.

Hendaknya setiap pesantren
berusaha menjadi teladan dalam hal tesebut, tidak saja dalam skala lokal, melainkan juga dalam
skala nasional bahkan internasional.

Hal ini berkaitan dengan kondisi umat Islam di dunia yang sangat tidak menyenangkan. Konflik berkepanjangan yang terjadi di Mesir, Syria dan Irak memaksa kita untuk melakukan telaah ulang
terhadap manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.

Sebagaimana kita ketahui, penyebab
timbulnya konflik tersebut adalah konfrontasi antara penganut Syiah dan Ahlu Sunnah. Masing-
masing merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Hal ini tentu memicu perang saudara yang tak terelakkan. Dan kita juga mengetahui, tentu perang yang berkecamuk merugikan penganut Islam di seluruh penjuru dunia. Masing-masing pihak bahkan membawa atribut keagamaan sebagai legalitas perbuatan yang mereka lakukan.

Membunuh saudaranya. Bagaimanalah seseorang membunuh saudaranya sesama muslim dengan melafalkan “Bismillahirrahmanirrahim” dan korban yang
terbunuh dengan sukarela melafalkan syahadat menjelang ajalnya?

Lagi-lagi, manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin masih dipertanyakan.

Dan yang menjadi pertanyaan besar adalah: Kapankah kita akan mewujudkan hal tersebut? Bagaimana kita akan mewujudkannya, sedangkan kita masih sibuk menuding dan menyalahkan saudara kita sesama
muslim?

Sungguh, hal yang demikian adalah sebuah kondisi yang tidak menyenangkan.

Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Terlepas dari maraknya isu Islam Nusantara yang sedang mencuat, Indonesia memiliki potensi untuk
menjadi pemimpin bagi seluruh muslim di dunia. Dengan jumlah penganut Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, kita memiliki aset untuk mendidik dan menggembleng calon-calon pemimpin
masa depan yang mampu membawa Islam kembali berjaya di muka bumi ini.

Seyogyanya masing-masing dari kita juga merefleksikan Islam kita.
Menghayati akidah yang kita anut sejak lahir.
Merefleksikan kembali syahadat yang terucap dalam sholat kita.
Mempelajari kembali esensi sebenar ajaran-ajaran Al Qur’an.
Memantaskan ibadah dan khusyu dalam sholat.
Kita memiliki tugas untuk mengembangkan Islam DI Indonesia, bukan mengembangkan Islam ALA
Indonesia.

Saya memiliki keyakinan, apabila kita mampu menghayati nilai-nilai ajaran Islam sesuai Al Qur’an
dan As Sunnah, maka kita mampu dan bisa menjadi pemimpin.

Wallah A’lam.

Bogor, 15 Ramadhan 1436/ 2 Juli 2015

image

Prof. Nabilah Lubis. Dalam usianya yang telah senja, masih bersemangat memberikan sumbangsih pemikiran bagi kejayaan Islam.

Catatan Perjalanan Menuju Timur

Saya menikmati saat-saat duduk dan menunggu waktu keberangkatan di stasiun atau bandara, sembari memperhatikan
orang-orang yang berlalu lalang membawa troli dan barang-barang. Ada yang bertumpuk-tumpuk, ada juga para light-
traveller, pelancong dengan bawaan yang ringkas, anti ribet.

Pagi ini saya kembali berada di sebuah bandar udara tersibuk negeri ini, menunggu saat keberangkatan pesawat yang
akan membawa saya pulang ke kampung halaman dalam beberapa jam lagi.

Pandangan saya tertuju ke pintu kedatangan penumpang di Terminal 3. Satu sosok semampai, berkulit putih dengan mendorong troli yang penuh berisi barang-barang bawaannya berjalan menuju satu titik tujuannya dengan penuh kepastian. Saya dapat melihat binar matanya yang meyiratkan kegembiraan, senyumnya mengembang lebar seraya
merentangkan tangannya, menyambut sesuatu yang telah menunggu kedatangannya.
Saya bergumam dalam hati, ah… kerinduannya terlampiaskan sudah. Entah berapa lama kerinduan itu tersimpan.
Perempuan itu lalu berjongkok, setengah berlari, semacam tak sabar ingin memeluk sosok di depannya.
Mata saya masih belum melepaskan pandangan terhadap kejadian mengharukan yang akan terjadi di hadapan saya.
Sekaligus penasaran, pastilah sosok yang dirindukan adalah gadis mungil nan lucu juga imut dengan pipi yang tembem.
Atau bisa jadi sosok itu adalah bocah bandel tapi bisa membuat orang kangen setengah mati.

Beberapa detik yang terjadi kemudian adalah sebuah moment of truth yang sangat diluar dugaan. Sesuatu yang
membuat matanya berbinar bukanlah dari dua kemungkinan yang telah disebutkan sebelumnya, bukan pula sosok belahan hatinya yang berdiri tegap menyambut kedatangannya dengan pelukan hangat. Sosok tersebut adalah seekor anjing (entah apa nama spesiesnya), yang di groom sedemikian rupa menyerupai gadis kecil yang menggemaskan dengan dua kuncir dan kaos berwarna pink menyala. Hewan kecil berkaki empat itu pun nampak sangat bahagia
bertemu tuannya, dua kaki depannya di angkat seraya berjalan menghampirinya. Tak lupa lidahnya juga dijulurkan.
Dan ketika dua makhluk berbeda jenis itu bertemu, keduanya berpelukan, masing-masing menghadiahkan pelukan
terhangat dan kecupan sayang, pelampiasan rindu yang nampaknya lama terpendam.

Terbesit di benak saya, kasih sayang lintas spesies itu terlihat begitu indah. Amat menyenangkan melihat keduanya menjadi sumber kebahagiaan bagi masing-masing.

Lantas, apakah manusia, makhluk yang ditinggikan derajatnya oleh
Allah dengan kesempurnaan penciptaan dan akal enggan menyebarkan kebahagiaan bagi jenisnya sendiri? Kebahagiaan
dari memberi dan berbagi kepada sesama adalah nirwaktu. Lebih abadi daripada kebahagiaan yang didapat dari pesta
pora, euforia sesaat atau hal-hal yang jelas-jelas hanya bersifat temporer.

Sharing is caring…
Sharing is happiness…
Care of each other is happiness…

Jakarta, 20 Ramadhan 1436/ 7 Juli 2015

image

Gerbang Udara

Mama To Be

udah lama vakum…, masih ngumpulin niat buat nulis lagi 😀

mama to be. kenapa judulnya gitu? well, bisa jadi bakal banyak catatan dengan subjek ini. soalnya, aku skrg tinggal berdekatan dengan bocah perempuan umur 4 tahun yang cerdas plus bawelnya melebihi nenek-nenek cerewet.

Rufaidah namanya, kadang suka aku plesetin jadi fa-i kalo lagi kambuh resenya.

jadi, si unyil ni keliatannya lagi doyan banget makan mi instan. mungkin dia sering lihat kakak2 nya jajan mi instan. jadilah dia minta dimasakin mie instant. hampir tiap hari! khawatir dong akunya. akhirnya, di suatu sabtu waktu dia lagi asik nonton tv plus ngobrol2 santai, aku menjalankan doktrim makan mie instan.

aku bilang kalo mie instan tu jahat, ga bagus buat perutnya, banyak pengawetnya dan semua alasan2 yg menurut aku logis buat disampaikan dan bisa dicerna anak usia 4 tahun. dan sepertinya dia paham2 aja tuh.

hasilnya…, kita mencapai sebuah kesepakatan. buat rufaidah, makan mie instan cuma boleh seminggu sekali, yaitu setiap hari sabtu. deal!

habis itu, dia selalu mengajukan pertanyaan yang sama, ‘ma, sekarang hari apa?’ atau ‘ma, hari sabtu masih lama ga?’ aku jawab sejujurnya. ini juga jadi kesempatan buat menjelaskan konsep hari dalam seminggu.

mamanya yang tiap hari jadi korban cerewetnya dia nanyain nama hari. aku si…, jadi pendengar saja. kan tetangga. hehe… 😉

nah… sekarang udah hari sabtu lagi. udah tiba waktu yang dinanti-nanti rufaidah.

tapi, berhubung sekarang belum jam maghrib, jadinya dia juga masih puasa mie instan. haha… 😀

aku belajar banyak dari si unyil ini.

1. dia komitmen sama perjanjian yang udh disepakati bersama. meskipun yaa… namanya juga anak kecil, kadang kumat resenya.

2. kepatuhan. dia patuh sama ucapan orangtuanya dan orang tua disekitarnya (aku), meskipun ga sesuai sama maunya. asal semuanya dijelaskan dengan benar, ga pake bohong.

3. kejujuran. kurang lebihpenjelasannya mirip dengan nomor sebelumnya.

makasi rufaidah, you taught us a lot of things

Jpeg

Me + Little Rufa Rufa. She’s adorable, isn’t she?