Mimpi Sederhana

Hi!

Udah lama banget aku absen dari dunia blog ini. Selesaikan kuliah sambil cari kerja yang cocok plus cari tempat tinggal yang nyaman itu sesuatu banget ya… Cape lahir batin. Alhamdulillah, sekarang kuliah aja yang belum selesai, doakan semoga cepat kelar dengan nilai yang cetar dan ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Amin…

I’m a teacher. Ya… saya adalah seorang guru.
Yang perlu kamu tau adalah, jadi guru (di sekolah) itu rempong pake banget. Printilan aka admninistrasi mengajar yang diwajibkan sama Dinas itu…. sangat merempongkan. Jadi, kalo guru kelasmu jarang masuk dan cuma kasih tugas, harap maklum ya…. (Tapi bukan berarti aku mendukung beliau-beliau untuk mangkir dari kelas demi menyelesaikan printilan itu ya… kalo yang begitu juga…. aku ga setuju banget).

So, saya (bukan) guru di sekolah. Apalah aku… cuma guru bimbel yang kalo ngajar nuruti kemauan anaknya mau belajar tema apa, topik apa. Ngajarnya sesuai kebutuhan murid. Butuhnya penjelasan ekstra ya kita kasih… butuh dibantu ngerjain tugas ya hayuk… butuh didengerin curhatnya tentang si mamang tukang cilor yang ga ngeladenin dia padahal dia datang duluan juga iya…

Seneng si denger cerita mereka yang macem-macem. 1 hari bisa ada 5 cerita berbeda dari 5 anak. (Anakku banyak ya…, hehe)

Nah, beberapa hari yang lalu, yang jadi muridku adalah siswa SMP kelas 8, sebut aja namanya Caca. Pertama datang udah bikin heboh dengan kelakuannya yang rada slebor khas tipe-tipe anak pembelajar kinestetik (hayooo… ada yang bisa nyebutin ga ciri-ciri anak dengan gaya belajar kinestetik?)

Konsentrasi dia ga bisa bertahan lama, harus banyak selingannya biar dia tetap mau buka buku dan jawab soal. Jadi, kita belajarnya diselingi cerita-cerita dia di sekolah tadi, lengkap dengan gerakan-gerakan dia yang ekspresif banget.

Tiba-tiba suasana hening karena 1 baris kalimat Caca yang bikin temannya melongo. Heningnya ga lama, habis itu Caca dapat gaya tertawa jahat dari temannya. Hahahahaha….

Apa pasal?
Rupanya karena Caca baru aja menyatakan mimpi besarnya. Mau tau? Caca bilang gini ‘Kak, aku pengen cepet jadi orang dewasa biar bisa nabung di bank trus bisa punya kartu ATM sendiri. jadi kalo jajan trus kehabisan dut bisa langsung mampir ATM’

Sederhana banget. Jaman aku SMP bahkan ga punya keinginan macam itu.

Ah Caca…, aku serasa ditampar dengan kalimatmu.
Gimana mau mewujudkan mimpi, sementara kadang beberapa dari kita ga paham apa yang kita inginkan, kita mimpikan, kita cita-citakan.
Dari  baris kalimat sederhana itu aku belajar bahwa mimpi itu ga perlu besar. ga perlu wah. mimpi sederhana yang terwujud akan sangat membahagiakan.

jadi, mulailah mewujudkan mimpi-mimpi sederhanamu, kamu akan terpacu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu yang lebih besar

Jangan lupakan mimpi besar kita. Al Jannah Al Ma’wa. Aammiinnn….

Bogor, Agt 2016
YZ

Simple Wisdom

Kali ini Rufaidah membuatku terhenyak.
Di sela makan siangnya, tiba-tiba dia berhenti sejenak untuk menyampaikan beberapa kalimat sederhana yang membuatku berkaca-kaca.
“Ustadzah, tau ga, waktu aku di bis pas mudik ke Jogja, aku berdoa loh.” Ujarnya mengawali pembicaraan.
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, aku membalas sekenanya “Oh ya?! Emang ade baca doa apa di bis?”
Jawabannya benar-benar membuatku menghentikan pekerjaanku sementara.
“Aku berdoa biar keluarga aku yang masih kafir cepet masuk Islam?” Allahu Akbar…
“Memang ade gimana baca doanya?” Telisikku lebih jauh lagi.
“Aku berdoa gini Ya Allah, cepatlah jadikan Papa, Oma sama Opa aku masuk Islam ya… gitu…”
Rasanya air mataku langsung menggenang di pelupuk mata. Aku memintanya untuk mengulang bacaan doanya, sekedar untuk memastikan bahwa aku tidak salah mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari bibir mungilnya.

Lalu aku bertanya lebih jauh lagi, “Kenapa ade pengen papa masuk Islam?”
Lagi-lagi jawabannya membuatku terharu “Iya, soalnya kan kalo papa, opa sama oma masuk Islam, aku bisa lebaran bareng papa. Aku sama mama jadi ga diusir lagi deh dari rumah oma. Ustadzah bantuin aku juga ya. Kalo ustadzah habis sholat, baca juga doa kaya aku tadi. Biar papa, opa sama oma bisa kumpul lagi sama aku.”
Doamu lebih didengar Allah sayang, Insya Allah. Jangan putus berdoa ya…

Subhanallah…
Terimakasih sayang, kau mengingatkan kami manisnya nikmat iman dalam Islam.
Terimakasih sayang, kau mengingatkan kami untuk tidak balik membenci orang yang menyakiti dan membenci kita karena ketidak tahuannya.

اللهم ثبت قلوبنا على دينك وطاعتك.
اللهم ثبت قلوبنا على دينك وطاعتك.
اللهم ثبت قلوبنا علي دينك وطاعتك.

ps: rufaidah masuk TK tahun ini.

image

She's on her first year in the kindergarten.

Refleksi Keislaman

Berikut adalah kutipan tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Nabilah Abdul Fattah Lubis pada acara Buka Puasa Bersama Dewan Guru Pesantren An Nur, Bogor.

Semoga bermanfaat!

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan ideal sebagai tumpuan harapan dan teladan dalam
segala hal. Teladan yang dimaksudkan bukan hanya dilihat dari segi pencapaian pembangunan
secara fisik, melainkan juga sebagai teladan dalam sistem pendidikan dan pengajaran, akhlak guru dan santri, kepemimpinan dan manajemen pengelolaan pesantren.

Hendaknya setiap pesantren
berusaha menjadi teladan dalam hal tesebut, tidak saja dalam skala lokal, melainkan juga dalam
skala nasional bahkan internasional.

Hal ini berkaitan dengan kondisi umat Islam di dunia yang sangat tidak menyenangkan. Konflik berkepanjangan yang terjadi di Mesir, Syria dan Irak memaksa kita untuk melakukan telaah ulang
terhadap manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.

Sebagaimana kita ketahui, penyebab
timbulnya konflik tersebut adalah konfrontasi antara penganut Syiah dan Ahlu Sunnah. Masing-
masing merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Hal ini tentu memicu perang saudara yang tak terelakkan. Dan kita juga mengetahui, tentu perang yang berkecamuk merugikan penganut Islam di seluruh penjuru dunia. Masing-masing pihak bahkan membawa atribut keagamaan sebagai legalitas perbuatan yang mereka lakukan.

Membunuh saudaranya. Bagaimanalah seseorang membunuh saudaranya sesama muslim dengan melafalkan “Bismillahirrahmanirrahim” dan korban yang
terbunuh dengan sukarela melafalkan syahadat menjelang ajalnya?

Lagi-lagi, manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin masih dipertanyakan.

Dan yang menjadi pertanyaan besar adalah: Kapankah kita akan mewujudkan hal tersebut? Bagaimana kita akan mewujudkannya, sedangkan kita masih sibuk menuding dan menyalahkan saudara kita sesama
muslim?

Sungguh, hal yang demikian adalah sebuah kondisi yang tidak menyenangkan.

Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Terlepas dari maraknya isu Islam Nusantara yang sedang mencuat, Indonesia memiliki potensi untuk
menjadi pemimpin bagi seluruh muslim di dunia. Dengan jumlah penganut Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, kita memiliki aset untuk mendidik dan menggembleng calon-calon pemimpin
masa depan yang mampu membawa Islam kembali berjaya di muka bumi ini.

Seyogyanya masing-masing dari kita juga merefleksikan Islam kita.
Menghayati akidah yang kita anut sejak lahir.
Merefleksikan kembali syahadat yang terucap dalam sholat kita.
Mempelajari kembali esensi sebenar ajaran-ajaran Al Qur’an.
Memantaskan ibadah dan khusyu dalam sholat.
Kita memiliki tugas untuk mengembangkan Islam DI Indonesia, bukan mengembangkan Islam ALA
Indonesia.

Saya memiliki keyakinan, apabila kita mampu menghayati nilai-nilai ajaran Islam sesuai Al Qur’an
dan As Sunnah, maka kita mampu dan bisa menjadi pemimpin.

Wallah A’lam.

Bogor, 15 Ramadhan 1436/ 2 Juli 2015

image

Prof. Nabilah Lubis. Dalam usianya yang telah senja, masih bersemangat memberikan sumbangsih pemikiran bagi kejayaan Islam.

Catatan Perjalanan Menuju Timur

Saya menikmati saat-saat duduk dan menunggu waktu keberangkatan di stasiun atau bandara, sembari memperhatikan
orang-orang yang berlalu lalang membawa troli dan barang-barang. Ada yang bertumpuk-tumpuk, ada juga para light-
traveller, pelancong dengan bawaan yang ringkas, anti ribet.

Pagi ini saya kembali berada di sebuah bandar udara tersibuk negeri ini, menunggu saat keberangkatan pesawat yang
akan membawa saya pulang ke kampung halaman dalam beberapa jam lagi.

Pandangan saya tertuju ke pintu kedatangan penumpang di Terminal 3. Satu sosok semampai, berkulit putih dengan mendorong troli yang penuh berisi barang-barang bawaannya berjalan menuju satu titik tujuannya dengan penuh kepastian. Saya dapat melihat binar matanya yang meyiratkan kegembiraan, senyumnya mengembang lebar seraya
merentangkan tangannya, menyambut sesuatu yang telah menunggu kedatangannya.
Saya bergumam dalam hati, ah… kerinduannya terlampiaskan sudah. Entah berapa lama kerinduan itu tersimpan.
Perempuan itu lalu berjongkok, setengah berlari, semacam tak sabar ingin memeluk sosok di depannya.
Mata saya masih belum melepaskan pandangan terhadap kejadian mengharukan yang akan terjadi di hadapan saya.
Sekaligus penasaran, pastilah sosok yang dirindukan adalah gadis mungil nan lucu juga imut dengan pipi yang tembem.
Atau bisa jadi sosok itu adalah bocah bandel tapi bisa membuat orang kangen setengah mati.

Beberapa detik yang terjadi kemudian adalah sebuah moment of truth yang sangat diluar dugaan. Sesuatu yang
membuat matanya berbinar bukanlah dari dua kemungkinan yang telah disebutkan sebelumnya, bukan pula sosok belahan hatinya yang berdiri tegap menyambut kedatangannya dengan pelukan hangat. Sosok tersebut adalah seekor anjing (entah apa nama spesiesnya), yang di groom sedemikian rupa menyerupai gadis kecil yang menggemaskan dengan dua kuncir dan kaos berwarna pink menyala. Hewan kecil berkaki empat itu pun nampak sangat bahagia
bertemu tuannya, dua kaki depannya di angkat seraya berjalan menghampirinya. Tak lupa lidahnya juga dijulurkan.
Dan ketika dua makhluk berbeda jenis itu bertemu, keduanya berpelukan, masing-masing menghadiahkan pelukan
terhangat dan kecupan sayang, pelampiasan rindu yang nampaknya lama terpendam.

Terbesit di benak saya, kasih sayang lintas spesies itu terlihat begitu indah. Amat menyenangkan melihat keduanya menjadi sumber kebahagiaan bagi masing-masing.

Lantas, apakah manusia, makhluk yang ditinggikan derajatnya oleh
Allah dengan kesempurnaan penciptaan dan akal enggan menyebarkan kebahagiaan bagi jenisnya sendiri? Kebahagiaan
dari memberi dan berbagi kepada sesama adalah nirwaktu. Lebih abadi daripada kebahagiaan yang didapat dari pesta
pora, euforia sesaat atau hal-hal yang jelas-jelas hanya bersifat temporer.

Sharing is caring…
Sharing is happiness…
Care of each other is happiness…

Jakarta, 20 Ramadhan 1436/ 7 Juli 2015

image

Gerbang Udara

Mama To Be

udah lama vakum…, masih ngumpulin niat buat nulis lagi 😀

mama to be. kenapa judulnya gitu? well, bisa jadi bakal banyak catatan dengan subjek ini. soalnya, aku skrg tinggal berdekatan dengan bocah perempuan umur 4 tahun yang cerdas plus bawelnya melebihi nenek-nenek cerewet.

Rufaidah namanya, kadang suka aku plesetin jadi fa-i kalo lagi kambuh resenya.

jadi, si unyil ni keliatannya lagi doyan banget makan mi instan. mungkin dia sering lihat kakak2 nya jajan mi instan. jadilah dia minta dimasakin mie instant. hampir tiap hari! khawatir dong akunya. akhirnya, di suatu sabtu waktu dia lagi asik nonton tv plus ngobrol2 santai, aku menjalankan doktrim makan mie instan.

aku bilang kalo mie instan tu jahat, ga bagus buat perutnya, banyak pengawetnya dan semua alasan2 yg menurut aku logis buat disampaikan dan bisa dicerna anak usia 4 tahun. dan sepertinya dia paham2 aja tuh.

hasilnya…, kita mencapai sebuah kesepakatan. buat rufaidah, makan mie instan cuma boleh seminggu sekali, yaitu setiap hari sabtu. deal!

habis itu, dia selalu mengajukan pertanyaan yang sama, ‘ma, sekarang hari apa?’ atau ‘ma, hari sabtu masih lama ga?’ aku jawab sejujurnya. ini juga jadi kesempatan buat menjelaskan konsep hari dalam seminggu.

mamanya yang tiap hari jadi korban cerewetnya dia nanyain nama hari. aku si…, jadi pendengar saja. kan tetangga. hehe… 😉

nah… sekarang udah hari sabtu lagi. udah tiba waktu yang dinanti-nanti rufaidah.

tapi, berhubung sekarang belum jam maghrib, jadinya dia juga masih puasa mie instan. haha… 😀

aku belajar banyak dari si unyil ini.

1. dia komitmen sama perjanjian yang udh disepakati bersama. meskipun yaa… namanya juga anak kecil, kadang kumat resenya.

2. kepatuhan. dia patuh sama ucapan orangtuanya dan orang tua disekitarnya (aku), meskipun ga sesuai sama maunya. asal semuanya dijelaskan dengan benar, ga pake bohong.

3. kejujuran. kurang lebihpenjelasannya mirip dengan nomor sebelumnya.

makasi rufaidah, you taught us a lot of things

Jpeg

Me + Little Rufa Rufa. She’s adorable, isn’t she?

Makan makan

Akhir-akhir ini kebiasaan lama aku muncul lagi, ngemil sesudah makan wajib. Rasanya kalo ga makan sesuatu habis makan nasi tu kaya ada yang kurang gitu rasanya. Tapi kalo disuruh nambah lagi makannya ga mau. Temen-temen aku aja pada heran, geleng-geleng kepala, ada gitu orang habis makan nasi masi berasa lapar…. aku aja heran sendiri, sampe kadang-kadang mikir, aku udah baca doa sebelum makan atau belum ya???

Cemilannya bisa apa aja, mulai dari kerupuk, roti, coklat sampe siomay atau mi instan (tapi yang terakhir ini jaraaaanggg banget makannya)

Akhirnya, aku ‘konsultasikan’ kebiasaan aku di wall facebook aku. Hasilnya, semua komentator menganggap hal itu normal, wajar dan masi oke. Bahkan ada seorang yang bilang kalo itu wajar dan sangat bagus untuk orang-orang yang ‘kekurangan beban’ semacam aku dan dia…

Hm… apapun itu, satu hal yang harus disyukuri, terlepas dari kebiasaan yang agak diluar kewajaran ini, adalah kita masih diberi nikmat kesehatan sama Allah. Sehat, makannya lahap, berselera bahkan sampe pengen makan lagi sesudah makan wajib (seperti aku, hehe…)

Makasi teman-teman… sudah menyumbangkan pendapat kalian tentang ngemil sesudah makan. Love youuuu ❤

Gagal Fokus

for once in a moment aku masak sodara2! masih newbie banget si. masi nyontek tutorial dan dibawelin sama om2 chef nya :D. Carrot Cake dan Date Scone yg jadi menunya. Well, sebenanrnya cooking is fun, tapiiii…. gara2 ga fokus ikutin instruksi plus mata berat krn udh ngetem di dapur dr siang, jadinya gitu deh… ga yakin. ada banyak kata ‘kayanya’ yg keluar. kayanya udah bener deh tadi nimbang tepungnya, kayanya tadi udah dimasukin tepungnya. kayanya bla bla bla…. dan hasilnya, kue nya ga mau ngembang. atau jangan2 waktu itu lupa kasi baking powder? hm… ga tau lah. my first cake (yg bikinnya masih dibawah pengawasan) finally gagal total. terlalu manis, ga ngembang juga 😦

 

nasib yg sama jg dialami si cantik Date Scone dan Caramel Pudding. ga sesuai harapan lah pokonya…

 

semuanya berawal dari gagal fokus.

 

 

 

Dapur br beres jam 12 malam. sebelum tidur, z flashback kejadian masak2 tadi.

 

and i can conclude that… mskipun sama2 ga enak, mending gagal fokus di dapur, ganjarannya langsung dkasi saat itu juga.

 

tapi, gagal fokus dalam hidup di dunia ini? hopefully i am not! haduuhhh…. bisa berabe.

 

 

 

Reset the clock and move forward. dont forget to stick to the plan

 

 

 

Allahumma tsabbit quluubanaa ‘ala diinik wa thaa’atik