Another Sunday Morning

ini kisah minggu pagi para lajang. kumpul2, cerita2, do some random things.

pagi ini kita nyambangi kampus tertua di negeri ini. si kampus yang punya bikun aka bis kuning. kampus yang jaket almamaternya warna kuning.

guide kita jalan2 di kampus adl lulusan FMIPA UI. rencananya si jogging tipis2, tapi apa daya… dua teman yg ikut sepertinya blm bisa lari jauh2, katanya keberatan beban, haha… aku si masi 45 kg jadi enteng aja lari2 kecil. heheh…

so…

jadi mahasiswa  UI mungkin mimpi yang agak jauh yaaa buatku. secara… sekolahnya di pesantren. makanan sehari2 nya kitab2 bahasa Arab klasik kontemporer. cemilannya buku Tarikh Adab Islam (Sejarah Sastra Islam), Ushul Fiqh, Mustholah Hadits, dan yang sejenis. pelajaran2 ‘umum’ juga ada, tapi porsinya tetep banyakan yg disebut di atas tadi.

bisa saja kesukaan nonton film scifi meracuni otak. sampe skrg masih interested, amazed banget sama cabang ilmu biomolekuler. duh…

nah… trus kmrn dibawa jalan lewat FKM (F. Kesehatan Masyarakat), FT, FIB, F Ilkom (Ilmu Komputer). agak sedikit apa ya… antara down sama pengen gitu lewat gedung2 itu. terberait pertanyaan ‘kalo dulu ga nyantri, skrg aku jadi apa? ada dimana?’

tapi tenang aja… aku bersyukur dengan jalan yang Allah tentukan sekarang.

dengan menghabiskan bbrp tahun di pesantren dan tahun2 berikutnya dengan inspirasi luar biasa yang didapat di sana insya Allah sekarang terus berproses menuju kebaikan.

terus memantapkan hati dengan لا إله إلا الله

meyakinkan diri dengan لا حول ولا قوة إلا بالله

tanpa bermaksud mengecilkan peran teman2 yg belum pernah merasakan hidup di pesantren, kesempatan berbuat baik dan menjadi baik itu selalu ada…tinggal kitanya, mau memanfaatkan apa engga

oia…

dan yang paling penting adalah bagaimana ilmu yang sudah didapat bermanfaat untuk orang banyak

fotonya ga representatif yaaa? heheh

Piknik

aku pernah punya sahabat pena. bertukar kabar lewat surat. berbagi cerita lewat tulisan.

suka menyisihkan uang jajan untuk beli kertas surat yang unyu, wangi dan cantik.

jaman masih jadi santri, di lemariku ada tumpukan surat dari ibu. kalo lagi kangen, suratnya dibaca satu-satu sambil ngebayangin suara ibu.

pernah ada masa-masa bertukar ‘sms’ via sobekan kertas yg dilempar sama teman sebangku. isinya ‘no. 13 apa?’ (haha… itu mah minta contekan ya?)

intinya, masa-masa sebelum ada hp menurutku nostalgic.

kalo janjian ni, udah dipastiin jauh-jauh hari sebelumnya. ketemu dimana, jam berapa trus siapa aja yang mau dateng. pas hari H, langsung ke TKP. pas udah kumpul, ngobrol ga habis, padahal udah sering ketemu juga.
belakangan, suka jenuh sama si smartphone

mampir fb, isinya random. semua ada, kaya toserba.

buka whatsapp (di notif ada tulisan 200+ chat belum terbaca), taunya di WAG lagi rame2 ga jelas. ada yg baper, berantem sampe trivia facts.

padahal, siapalah penghuni sosmed itu?

kan ga lucu kalo jenuh karena ada smartphone?

etapi, pake smartphone ada enaknya juga.

kaya nulis skrg ni, bisa lsg ke app nya. ga payah nyalain komputer n cari sambungan internet.

bikin laporan jg bisa dari hp.

ngerjain soal latihan juga bisa dari hp.

pesen angkutan online, browsing tiket murah, pesen makanan bisa dari hp.

jadi… masalahnya di hp atau sosmed?

hm… kebanyakan socmed jadi jenuh. iya ga si?

piknik aja yuk… naik kereta gantung melintasi pegunungan bersalju trus turunnya ditungguin sama oom Gong Yoo😆

jadi… stop socmed aja ya

from Java with Love…

Lueng Putu. Pidie Jaya. Meureudue. Bireuen. Samalanga.
Nama-nama tersebut menjadi viral 2 hari ini. Mungkin terdengar asing bagimu, tapi tidak bagiku.

lueng-putu

gerbang perbatasan Kab. Pidie dan Pidie Jaya. sekolah tempat saya mengajar berada persis sesudah gerbang ini

I’ve been there. menghirup udaranya, merasakan airnya, cherish every moment dengan kehangatan dan keramah tamahan penduduknya.

Lalu kota kecil itu mendadak viral. Gempa berkekuatan 6.4 SR meluluh lantakkan sebagian bangunan. Gempa itu juga membuat jalan-jalan merekah.

Believe me. I felt it too. Twice.
Merasakan bumi yang bergoyang saat malam belum lagi habis. Membangunkan dari lelap tidur menjelang ayam berkokok.

Kali ini gempa berkekuatan sedang itu membuat semua mata mengalihkan pandangannya sejenak. Dampaknya tak teduga. Orang-orang panik. Mereka terjebak di rumah-rumah mereka sendiri. Seorang teman menuturkan gempa kali ini terasa berbeda. Rasanya seperti di atas trampolin raksasa sehingga menyebabkan kesulitan untuk keluar rumah dan menuju tempat terbuka, menyelamatkan diri. Jumlah korban hampir menyentuh angka ratusan. Mereka trauma, khawatir kenangan pilu itu terjadi lagi.

Namun aku tahu mereka. Terlepas dari apapun yang diberitakan media, kesanku terhadap mereka belum berubah. Orang Aceh yang ku kenal adalah orang-orang yang ramah, sederhana, pantang menyerah dan tekun beribadah.

Mereka pernah bertahan melewati masa sulit tahun 2006 lalu. Aku yakin, kali ini dapat kembali dilalui dengan baik.

Stay Strong!

A (Bitter Sweet) Cup of Tiramisu

ia cantik. tampilannya elegan dan manis. dalam sekali sendok, kelembutannya seakan sudah terasa di lidah. siapa sangka, ia menyimpan selapis cake pahit, khas rasa kopi.

pun hidup, terlihat indah berpoles tawa dan bahagia. siapa yang tahu selapis getir dan airmata yang tersembunyi. berkamuflase dalam binar mata yang terlihat bahagia.
layaknya tiramisu, dimana selapis cake itu hanya bisa dirasakan lidah pemiliknya, pun hidup ini, hanya kita dan Sang Pemilik Kehidupan lah yang mengetahui cerita kebenarannya.
kecantikan tiramisu bisa dilihat siapa saja. tapi pahitnya, hanya sedikit yang tahu.

kebaikan yg dikerjakan dalam hidup ini seyogyanya tersebar. sedangkan luka dan getir… hanya Allah lah sebaik-baik tempat mengadu

*short note after long walk with a friend, a family***

TNB – BOO, 25 Agt 2016

Mimpi Sederhana

Hi!

Udah lama banget aku absen dari dunia blog ini. Selesaikan kuliah sambil cari kerja yang cocok plus cari tempat tinggal yang nyaman itu sesuatu banget ya… Cape lahir batin. Alhamdulillah, sekarang kuliah aja yang belum selesai, doakan semoga cepat kelar dengan nilai yang cetar dan ilmunya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Amin…

I’m a teacher. Ya… saya adalah seorang guru.
Yang perlu kamu tau adalah, jadi guru (di sekolah) itu rempong pake banget. Printilan aka admninistrasi mengajar yang diwajibkan sama Dinas itu…. sangat merempongkan. Jadi, kalo guru kelasmu jarang masuk dan cuma kasih tugas, harap maklum ya…. (Tapi bukan berarti aku mendukung beliau-beliau untuk mangkir dari kelas demi menyelesaikan printilan itu ya… kalo yang begitu juga…. aku ga setuju banget).

So, saya (bukan) guru di sekolah. Apalah aku… cuma guru bimbel yang kalo ngajar nuruti kemauan anaknya mau belajar tema apa, topik apa. Ngajarnya sesuai kebutuhan murid. Butuhnya penjelasan ekstra ya kita kasih… butuh dibantu ngerjain tugas ya hayuk… butuh didengerin curhatnya tentang si mamang tukang cilor yang ga ngeladenin dia padahal dia datang duluan juga iya…

Seneng si denger cerita mereka yang macem-macem. 1 hari bisa ada 5 cerita berbeda dari 5 anak. (Anakku banyak ya…, hehe)

Nah, beberapa hari yang lalu, yang jadi muridku adalah siswa SMP kelas 8, sebut aja namanya Caca. Pertama datang udah bikin heboh dengan kelakuannya yang rada slebor khas tipe-tipe anak pembelajar kinestetik (hayooo… ada yang bisa nyebutin ga ciri-ciri anak dengan gaya belajar kinestetik?)

Konsentrasi dia ga bisa bertahan lama, harus banyak selingannya biar dia tetap mau buka buku dan jawab soal. Jadi, kita belajarnya diselingi cerita-cerita dia di sekolah tadi, lengkap dengan gerakan-gerakan dia yang ekspresif banget.

Tiba-tiba suasana hening karena 1 baris kalimat Caca yang bikin temannya melongo. Heningnya ga lama, habis itu Caca dapat gaya tertawa jahat dari temannya. Hahahahaha….

Apa pasal?
Rupanya karena Caca baru aja menyatakan mimpi besarnya. Mau tau? Caca bilang gini ‘Kak, aku pengen cepet jadi orang dewasa biar bisa nabung di bank trus bisa punya kartu ATM sendiri. jadi kalo jajan trus kehabisan dut bisa langsung mampir ATM’

Sederhana banget. Jaman aku SMP bahkan ga punya keinginan macam itu.

Ah Caca…, aku serasa ditampar dengan kalimatmu.
Gimana mau mewujudkan mimpi, sementara kadang beberapa dari kita ga paham apa yang kita inginkan, kita mimpikan, kita cita-citakan.
Dari  baris kalimat sederhana itu aku belajar bahwa mimpi itu ga perlu besar. ga perlu wah. mimpi sederhana yang terwujud akan sangat membahagiakan.

jadi, mulailah mewujudkan mimpi-mimpi sederhanamu, kamu akan terpacu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu yang lebih besar

Jangan lupakan mimpi besar kita. Al Jannah Al Ma’wa. Aammiinnn….

Bogor, Agt 2016
YZ

Simple Wisdom

Kali ini Rufaidah membuatku terhenyak.
Di sela makan siangnya, tiba-tiba dia berhenti sejenak untuk menyampaikan beberapa kalimat sederhana yang membuatku berkaca-kaca.
“Ustadzah, tau ga, waktu aku di bis pas mudik ke Jogja, aku berdoa loh.” Ujarnya mengawali pembicaraan.
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, aku membalas sekenanya “Oh ya?! Emang ade baca doa apa di bis?”
Jawabannya benar-benar membuatku menghentikan pekerjaanku sementara.
“Aku berdoa biar keluarga aku yang masih kafir cepet masuk Islam?” Allahu Akbar…
“Memang ade gimana baca doanya?” Telisikku lebih jauh lagi.
“Aku berdoa gini Ya Allah, cepatlah jadikan Papa, Oma sama Opa aku masuk Islam ya… gitu…”
Rasanya air mataku langsung menggenang di pelupuk mata. Aku memintanya untuk mengulang bacaan doanya, sekedar untuk memastikan bahwa aku tidak salah mendengar kalimat-kalimat yang terucap dari bibir mungilnya.

Lalu aku bertanya lebih jauh lagi, “Kenapa ade pengen papa masuk Islam?”
Lagi-lagi jawabannya membuatku terharu “Iya, soalnya kan kalo papa, opa sama oma masuk Islam, aku bisa lebaran bareng papa. Aku sama mama jadi ga diusir lagi deh dari rumah oma. Ustadzah bantuin aku juga ya. Kalo ustadzah habis sholat, baca juga doa kaya aku tadi. Biar papa, opa sama oma bisa kumpul lagi sama aku.”
Doamu lebih didengar Allah sayang, Insya Allah. Jangan putus berdoa ya…

Subhanallah…
Terimakasih sayang, kau mengingatkan kami manisnya nikmat iman dalam Islam.
Terimakasih sayang, kau mengingatkan kami untuk tidak balik membenci orang yang menyakiti dan membenci kita karena ketidak tahuannya.

اللهم ثبت قلوبنا على دينك وطاعتك.
اللهم ثبت قلوبنا على دينك وطاعتك.
اللهم ثبت قلوبنا علي دينك وطاعتك.

ps: rufaidah masuk TK tahun ini.

image

She's on her first year in the kindergarten.

Refleksi Keislaman

Berikut adalah kutipan tausiyah yang disampaikan oleh Prof. Nabilah Abdul Fattah Lubis pada acara Buka Puasa Bersama Dewan Guru Pesantren An Nur, Bogor.

Semoga bermanfaat!

Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan ideal sebagai tumpuan harapan dan teladan dalam
segala hal. Teladan yang dimaksudkan bukan hanya dilihat dari segi pencapaian pembangunan
secara fisik, melainkan juga sebagai teladan dalam sistem pendidikan dan pengajaran, akhlak guru dan santri, kepemimpinan dan manajemen pengelolaan pesantren.

Hendaknya setiap pesantren
berusaha menjadi teladan dalam hal tesebut, tidak saja dalam skala lokal, melainkan juga dalam
skala nasional bahkan internasional.

Hal ini berkaitan dengan kondisi umat Islam di dunia yang sangat tidak menyenangkan. Konflik berkepanjangan yang terjadi di Mesir, Syria dan Irak memaksa kita untuk melakukan telaah ulang
terhadap manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.

Sebagaimana kita ketahui, penyebab
timbulnya konflik tersebut adalah konfrontasi antara penganut Syiah dan Ahlu Sunnah. Masing-
masing merasa benar dengan pendapatnya sendiri. Hal ini tentu memicu perang saudara yang tak terelakkan. Dan kita juga mengetahui, tentu perang yang berkecamuk merugikan penganut Islam di seluruh penjuru dunia. Masing-masing pihak bahkan membawa atribut keagamaan sebagai legalitas perbuatan yang mereka lakukan.

Membunuh saudaranya. Bagaimanalah seseorang membunuh saudaranya sesama muslim dengan melafalkan “Bismillahirrahmanirrahim” dan korban yang
terbunuh dengan sukarela melafalkan syahadat menjelang ajalnya?

Lagi-lagi, manifestasi Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin masih dipertanyakan.

Dan yang menjadi pertanyaan besar adalah: Kapankah kita akan mewujudkan hal tersebut? Bagaimana kita akan mewujudkannya, sedangkan kita masih sibuk menuding dan menyalahkan saudara kita sesama
muslim?

Sungguh, hal yang demikian adalah sebuah kondisi yang tidak menyenangkan.

Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Terlepas dari maraknya isu Islam Nusantara yang sedang mencuat, Indonesia memiliki potensi untuk
menjadi pemimpin bagi seluruh muslim di dunia. Dengan jumlah penganut Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, kita memiliki aset untuk mendidik dan menggembleng calon-calon pemimpin
masa depan yang mampu membawa Islam kembali berjaya di muka bumi ini.

Seyogyanya masing-masing dari kita juga merefleksikan Islam kita.
Menghayati akidah yang kita anut sejak lahir.
Merefleksikan kembali syahadat yang terucap dalam sholat kita.
Mempelajari kembali esensi sebenar ajaran-ajaran Al Qur’an.
Memantaskan ibadah dan khusyu dalam sholat.
Kita memiliki tugas untuk mengembangkan Islam DI Indonesia, bukan mengembangkan Islam ALA
Indonesia.

Saya memiliki keyakinan, apabila kita mampu menghayati nilai-nilai ajaran Islam sesuai Al Qur’an
dan As Sunnah, maka kita mampu dan bisa menjadi pemimpin.

Wallah A’lam.

Bogor, 15 Ramadhan 1436/ 2 Juli 2015

image

Prof. Nabilah Lubis. Dalam usianya yang telah senja, masih bersemangat memberikan sumbangsih pemikiran bagi kejayaan Islam.